Daftarrangkuman kode ICD 10 yang paling sering di temukan di puskesmas satu mata PENYAKIT TELINGA KELOMPOK Penyakit telinga dan mastoid H60 Otitis externa / infeksi telinga luar H60.4 Cholesteatoma of external ear H60.9 Otitis externa, unspecified H61 Kelainan telinga luar H61.0 Perichondritis telinga luar H65 Otitis Media Nonsuppurative KodeDiagnosis Pcare BPJS Kesehatan Untuk Serumen Prop Telinga dari ICD 10. Kondisi medis serumen prop telinga ini memiliki kode adalah H61.2. Kode diagnosis ini dapat menjadi lebih spesifik tergantung kepada letak serumen prop nya. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat perinciannya di bawah ini: H61.2 Serumen prop (Impacted cerumen) Untukyang bertanya mengenai kode ICD 10-nya, leukocytosis memiliki kode ICD D72.829 dan jelas kode ini berbeda dengan kode ICD 10 penyakit atau gangguan kesehatan lainnya. Bahkan dalam sebuah penyakit, satu jenis penyakit yang sama namun letak posisi dari penyakit tersebut ada di bagian tubuh berbeda juga akan memiliki kode ICD 10 berbeda pula. ï»żIstilahPenyakit Telinga Kode ICD 10 Diagnosis ICD 10 untuk BPJS Kesehatan; Serumen Jadi kode ICD 10 terbagi menjadi 2 macam, yaitu : M25.5: Sakit pada persendian M26.6: Gangguan sendi Temporomandibular. Sementara itu, dengan mengetahui kode ICD 10 untuk Arthralgia, selanjutnya kalian bisa membuatkan laporan medis terkait penyakit tersebut. Bahkan kode ICD 10 juga digunakan pada saat menentukan biaya perawatan serta pengobatan Arthralgia. Kode ICD 10 Arthralgia juga sudah tercantum pada daftar kode diagnosa BPJS Kesehatan. Penyebab Timbulnya Penyakit Arthralgia KELAINANKONGENITAL TELINGA Chronic pansinusitis J324 Cauliflower ear M951 DEFORMITAS TELINGA Chronic sphenoidal sinusitis J323 Chronic inflam, granulation, mucosal cyst of postmastoidectomy H951 Chronic ethmoidal sinusitis J322 Recurrent cholesteatoma of postmastoidectomy cavity H950 PASCA OPERASI MASTOID Chronic frontal sinusitis J321 . 100% found this document useful 5 votes9K views2 pagesOriginal TitleIcd Diagnosis Penyakit Dan Tindakan Terkait ThtCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 5 votes9K views2 pagesIcd Diagnosis Penyakit Dan Tindakan Terkait THTOriginal TitleIcd Diagnosis Penyakit Dan Tindakan Terkait ThtJump to Page You are on page 1of 2 You're Reading a Free Preview Page 2 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. 12 Desember 2018 Kedokteran Otitis Eksterna Pengertian Otitis EksternaKeluhanFaktor RisikoPemeriksaan FisikPemeriksaan PenunjangDiagnosis KlinisKlasifikasiDiagnosis BandingKomplikasiPenatalaksanaan dan Pengobatan Otitis EksternaPemeriksaan Penunjang LanjutanRencana Tindak LanjutKonseling dan EdukasiKriteria RujukanSarana PrasaranaPrognosisKode ICD X Pengertian Otitis Eksterna Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, dan virus. Penyakit ini sering dijumpai pada daerah-daerah yang panas dan lembab dan jarang pada iklim-iklim sejuk dan kering. ICD X Otitis Eksterna Keluhan Pasien datang dengan keluhan rasa sakit pada telinga, terutama bila daun telinga disentuh dan waktu mengunyah. Namun pada pasien dengan otomikosis biasanya datang dengan keluhan rasa gatal yang hebat dan rasa penuh pada liang telinga. Rasa sakit di dalam telinga bisa bervariasi dari yang hanya berupa rasa tidak enak sedikit, perasaan penuh di dalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga rasa sakit yang hebat, serta berdenyut. Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada tahap awal dan sering mendahului terjadinya rasa sakit dan nyeri tekan daun telinga. Kurang pendengaran mungkin terjadi pada otitis eksterna disebabkan edema kulit liang telinga, sekret yang serous atau purulen, penebalan kulit yang progresif sehingga sering menyumbat lumen kanalis dan menyebabkan timbulnya tuli konduktif. Faktor Risiko Lingkungan yang panas dan lembab Berenang Membersihkan telinga secara berlebihan, seperti dengan cotton bud ataupun benda lainnya Kebiasaan memasukkan air ke dalam telinga Penyakit sistemik diabetes Pemeriksaan Fisik a. Nyeri tekan pada tragus b. Nyeri tarik daun telinga c. Kelenjar getah bening regional dapat membesar dan nyeri d. Pada pemeriksaan liang telinga Pada otitis eksterna sirkumskripta dapat terlihat furunkel atau bisul serta liang telinga sempit; Pada otitis eksterna difusa liang telinga sempit, kulit liang telinga terlihat hiperemis dan udem yang batasnya tidak jelas serta sekret yang sedikit. Pada otomikosis dapat terlihat jamur seperti serabut kapas dengan warna yang bervariasi putih kekuningan Pada herpes zoster otikus tampak lesi kulit vesikuler di sekitar liang telinga. e. Pada pemeriksaan penala kadang didapatkan tuli konduktif. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan sediaan langsung jamur dengan KOH untuk otomikosis Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Klasifikasi a. Otitis Eksterna Akut Otitis eksterna sirkumskripta Infeksi bermula dari folikel rambut di liang telinga yang disebabkan oleh bakteri stafilokokus dan menimbulkan furunkel di liang telinga di 1/3 luar. Otitis eksterna difus b. Infeksi pada 2/3 dalam liang telinga akibat infeksi bakteri. Umumnya bakteri penyebab yaitu Pseudomonas. Bakteri penyebab lainnya yaitu Staphylococcus albus, Escherichia coli, Enterobacter aerogenes. Danau, laut dan kolam renang merupakan sumber potensial untuk infeksi Infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi di daerah tersebut. Yang tersering ialah jamur Pityrosporum, Aspergillus. Kadang-kadang ditemukan juga kandida albikans atau jamur lain. c. Herpes Zoster Otikus Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Varicella zoster. Virus ini menyerang satu atau lebih dermatom saraf kranial. Diagnosis Banding Otitis eksterna nekrotik Perikondritis yang berulang Kondritis Dermatitis, seperti psoriasis dan dermatitis seboroika. Komplikasi Infeksi kronik liang telinga jika pengobatan tidak adekuat dapat terjadi stenosis atau penyempitan liang telinga karena terbentuk jaringan parut Penatalaksanaan dan Pengobatan Otitis Eksterna a. Membersihkan liang telinga dengan pengisap atau kapas dengan berhati-hati. b. Selama pengobatan sebaiknya pasien tidak berenang dan tidak mengorek telinga. c. Farmakologi 1. Topikal Otitis eksterna sirkumskripta pada stadium infiltrat diberikan salep ikhtiol atau antibiotik dalam bentuk salep seperti polymixin B atau basitrasin. Pada otitis eksterna difus dengan memasukkan tampon yang mengandung antibiotik ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara obat dengan kulit yang meradang. Pilihan antibiotika yang dipakai adalah campuran polimiksin B, neomisin, hidrokortison dan anestesi topikal. Pada otomikosis dilakukan pembersihan liang telinga dari plak jamur dilanjutkan dengan mencuci liang telinga dengan larutan asam asetat 2% dalam alkohol 70% setiap hari selama 2 minggu. Irigasi ringan ini harus diikuti dengan pengeringan. Tetes telinga siap beli dapat digunakan seperti asetat-nonakueous 2% dan mkresilasetat. 2. Oral sistemik Antibiotika sistemik diberikan dengan pertimbangan infeksi yang cukup berat. Analgetik paracetamol atau ibuprofen dapat diberikan. Pengobatan herpes zoster otikus sesuai dengan tatalaksana Herpes Zoster. Bila otitis eksterna sudah terjadi abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan nanah. Pemeriksaan Penunjang Lanjutan Evaluasi pendengaran pada kasus post herpetis zooster otikus. Rencana Tindak Lanjut Tiga hari pasca pengobatan untuk melihat hasil pengobatan. Khusus untuk otomikosis, tindak lanjut berlangsung sekurangkurangnya 2 minggu. Konseling dan Edukasi Pasien dan keluarga perlu diberitahu tentang Tidak mengorek telinga baik dengan cotton bud atau lainnya. Selama pengobatan pasien tidak boleh berenang. Penyakit dapat berulang sehingga harus menjaga liang telinga agar dalam kondisi kering dan tidak lembab. Kriteria Rujukan Pada kasus herpes zoster otikus Kasus otitis eksterna nekrotikan Sarana Prasarana Lampu kepala Corong telinga Aplikator kapas Otoskop Prognosis Prognosis tergantung dari perjalanan penyakit, ada/tidaknya komplikasi, penyakit yang mendasarinya serta pengobatan lanjutannya. Kode ICD X Kode ICD Otitis Eksterna adalah About The Author dr. Agus Haryono Gambar Tonsilitis DefinisiKeluhanFaktor RisikoPemeriksaan FisikPemeriksaan PenunjangDiagnosis KlinisKlasifikasi tonsilitisDiagnosis BandingPengobatan TonsilitisPengobatan tonsilitis kronikKonseling dan EdukasiPemeriksaan Penunjang Lanjutan Definisi Tonsilitis atau radang amandel adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu tonsil faringeal adenoid, tonsil palatina tonsil faucial, tonsil lingual tonsil pangkal lidah, tonsil tuba Eustachius lateral band dinding faring/ Gerlach's tonsil. Kode ICD 10 Tonsilitis J00 Penyakit ini banyak diderita oleh anak-anak berusia 3 sampai 10 tahun dan anak remaja berusia 15 hingga 25 tahun. Keluhan Pasien datang dengan keluhan nyeri pada tenggorokan. Gejala lainnya tergantung penyebab tonsilitis. Penderita amandel akut awalnya mengeluh rasa kering di tenggorokan, kemudian berubah menjadi rasa nyeri di tenggorokan dan nyeri saat menelan. Rasa nyeri semakin lama semakin bertambah sehingga anak menjadi tidak mau makan. Nyeri hebat ini dapat menyebar sebagai referred pain ke sendi-sendi dan telinga. Nyeri pada telinga otalgia tersebut tersebar melalui nervus glossofaringeus IX. Keluhan lainnya berupa demam yang dapat sangat tinggi sampai menimbulkan kejang pada bayi dan anak-anak. Rasa nyeri kepala, badan lesu dan nafsu makan berkurang sering menyertai pasien tonsilitis akut. Suara pasien terdengar seperti orang yang mulutnya penuh terisi makanan panas. Keadaan ini disebut plummy voice/ hot potato voice. Mulut berbau foetor ex ore dan ludah menumpuk dalam kavum oris akibat nyeri telan yang hebat ptialismus. Tonsilitis viral lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorokan. Pada tonsilitis kronik, pasien mengeluh ada penghalang/ mengganjal di tenggorokan, tenggorokan terasa kering dan pernafasan berbau halitosis. Pada Angina Plaut Vincent Stomatitis ulseromembranosa gejala yang timbul adalah demam tinggi 39ÂșC , nyeri di mulut, gigi dan kepala, sakit tenggorokan, badan lemah, gusi mudah berdarah dan hipersalivasi. Faktor Risiko Faktor usia, terutama pada anak. Penurunan daya tahan tubuh. Rangsangan menahun misalnya rokok, makanan tertentu. Higiene rongga mulut yang kurang baik. Pemeriksaan Fisik a. Tonsilitis akut pada pemeriksaan ditemukan tonsil yang udem ukuran membesar, hiperemis dan terdapat detritus yang memenuhi permukaan tonsil baik berbentuk folikel, lakuna, atau pseudomembran. Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis, bila bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur alur maka akan terjadi tonsilitis lakunaris. Bercak detritus ini dapat melebar sehingga terbentuk membran semu pseudomembran yang menutupiruang antara kedua tonsil sehingga tampak menyempit. Palatum mole, arkus anterior dan arkus posterior juga tampak udem dan hiperemis. Kelenjar submandibula yang terletak di belakang angulus mandibula terlihat membesar dan ada nyeri tekan. b. Tonsilitis kronik pada pemeriksaan fisik ditemukan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar, dan kriptus berisi detritus. Tanda klinis pada Tonsilitis Kronis yang sering muncul adalah kripta yang melebar, pembesaran kelenjar limfe submandibula dan tonsil yang mengalami perlengketan. Tanda klinis tidak harus ada seluruhnya, minimal ada kripta yang melebar dan pembesaran kelenjar limfe submandibular. c. Tonsilitis difteri pada pemeriksaan ditemukan tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan membentuk pseudomembran yang melekat erat pada dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. d. Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi T2 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaringatau batas medial tonsil melewati ÂŒ jarak pilar anterior-uvula sampai œ jarak pilar anterior-uvula. T3 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial tonsil melewati œ jarak pilar anterior-uvula sampai Ÿ jarak pilar anterior-uvula. T4 > 75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial tonsil melewati Ÿ jarak pilar anterior-uvula sampai uvula atau lebih. Pemeriksaan Penunjang Darah lengkap Usap tonsil untuk pemeriksaan mikroskop dengan pewarnaan gram Diagnosis Klinis Diagnosis radang amandel ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan untuk diagnosis definitif dengan pemeriksaan penunjang. Klasifikasi tonsilitis a. Tonsilitis Akut Tonsilitis viral Virus Epstein Barr adalah penyebab paling sering. Jika terjadi infeksivirus coxschakie, maka pada pemeriksaan rongga mulut akan tampak luka-luka kecil pada palatum dan tonsil yang sangat nyeri dirasakan pasien. Tonsilitis bakterial Peradangan akut tonsil yang dapat disebabkan oleh kuman grup A stereptococcus beta hemoliticus yang dikenal sebagai strept throat, pneumococcus, streptococcus viridan dan streptococcus piogenes. Haemophilus influenzae merupakan penyebab tonsilitis akut supuratif. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus. Masa inkubasi 2-4 hari. b. Tonsilitis Membranosa Tonsilitis difteri; radang amandel amandel ini disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman ini akan sakit. Keadaan ini tergantung pada titer antitoksin dalam darah. Titerantitoksin sebesar 0,03 sat/cc darah dapat dianggap cukup memberikan dasar imunitas. Gejalanya terbagi menjadi 3 golongan besar, umum, lokal dan gejala akibat eksotoksin. Gejala umum sama seperti gejala infeksi lain, yaitu demam subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat dan keluhan nyeri menelan. Gejala lokal yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan membentuk pseudomembran yang melekat erat pada dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Gejala akibat endotoksin dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh, misalnya pada jantung dapat terjadi miokarditis sampai dekompensasi kordis, pada saraf kranial dapat menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot pernafasan, pesudomembran yang meluas ke faringolaring dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas atas yang merupakan keadaan gawat darurat serta pada ginjal dapat menimbulkan albuminuria. Tonsilitis septik, Penyebab nya adalah Streptococcus hemoliticus yang terdapat dalam susu sapi sehingga menimbulkan epidemi. Oleh karena itu di Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan cara pasteurisasi sebelum diminum maka penyakit ini jarang ditemukan. Angina Plaut Vincent Stomatitis ulseromembranosa Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang didapatkan pada penderita dengan higiene mulut yang kurang dan defisiensi vitamin C. Penyakit keganasan Pembesaran tonsil dapat merupakan manifestasi dari suatu keganasan seperti limfoma maligna atau karsinoma tonsil. Biasanya ditemukan pembesaran tonsil yang asimetris. c. Tonsilitis Kronik Tonsilitis kronik timbul karena rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat. Diagnosis Banding a. Faringitis. b. Tumor tonsil. Komplikasi Radang Amandel a. Komplikasi lokal Abses peritonsil Quinsy Abses parafaringeal Otitis media akut b. Komplikasi sistemik Glomerulonephritis Miokarditis Demam reumatik dan penyakit jantung reumatik Pengobatan Tonsilitis a. Istirahat cukup b. Makan makanan lunak dan menghindari makan makanan yang mengiritasi c. Menjaga kebersihan mulut d. Pemberian obat topikal dapat berupa obat kumur antiseptik e. Pemberian obat oral sistemik Pada tonsilitis viral istirahat, minum cukup, analgetika, antivirus diberikan bila Radang amandel akibat bakteri terutama bila diduga penyebabnya streptococcus group A, diberikan antibiotik yaitu Penicillin G Benzatin U/kgBB/IM dosis tunggal atau Amoksisilin 50 mg/ kgBB dosis dibagi 3 kali/ hari selama 10 hari dan pada dewasa 3×500 mg selama 6-10 hari atau eritromisin 4×500 mg/hari. Selain antibiotik juga diberikan kortikosteroid karena steroid telah menunjukkan perbaikan klinis yang dapat menekan reaksi inflamasi. Steroid yang dapat diberikan berupa deksametason 3×0,5 mg pada dewasa selama 3 hari dan pada anak-anak 0,01 mg/kgBB/hari dibagi 3 kali pemberian selama 3 hari. Pada tonsilitis difteri, Anti Difteri Serum diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur, dengan dosis unit tergantung umur dan jenis kelamin. Antibiotik penisilin atau eritromisin 25-50 mg/kgBB/hari. Antipiretik untuk simptomatis dan pasien harus diisolasi. Perawatan harus istirahat di tempat tidur selama 2-3 minggu Pada Angina Plaut Vincent Stomatitis ulseromembranosa diberikan antibiotik spektrum luas selama 1 minggu, dan pemberian vitamin C serta vitamin B kompleks. Pengobatan tonsilitis kronik Diberikan obat-obatan simptomatik dan obat kumur yang mengandung desinfektan. Indikasi tonsilektomi. Indikasi Tonsilektomi Menurut Health Technology Assessment, Kemenkes tahun 2004, indikasi tonsilektomi, yaitu a. Indikasi Absolut Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran nafas, disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmonar Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi b. Indikasi Relatif Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik adekuat Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis Tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptococcus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik laktamase resisten. Konseling dan Edukasi Memberitahu individu dan keluarga untuk Melakukan pengobatan yang adekuat karena risiko kekambuhan cukup tinggi. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makan bergizi dan olahraga teratur. Berhenti merokok. Selalu menjaga kebersihan mulut. Mencuci tangan secara teratur. Menghindari makanan dan minuman yang mengiritasi. Pemeriksaan Penunjang Lanjutan Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri. 0% found this document useful 0 votes117 views4 pagesCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes117 views4 pagesKode Diagnosis Benda Asing Di Telinga TUKARJump to Page You are on page 1of 4 You're Reading a Free Preview Page 3 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. Daftar rincian kode diagnosa ICD 10 penyakit telinga hidung tenggorokSalam dan jumpa lagi para sahabat koder. Di tulisan ini kami akan membagikan daftar kode ICD 10 diagnosis penyakit telinga, hidung, dan tenggorokan yang detail dan lengkap. Mudah-mudahan tulisan ini memberikan kemudahan dalam proses koding diagnosis penyakit THT di era BPJS karena begitu banyak tabel dan kode di bawah ini, maka kami sarankan tips mempermudah pencarian. Silahkan Anda tekan “Ctrl+F” lalu ketikkan nama gejala atau diagnosis penyakit baik bahasa Indonesia ataupun Inggris. Kemudian tekan “Enter” maka Anda akan dibawa ke istilah diagnosa yang Anda cari. Hal ini dapat dilakukan menggunakan laptop, notebook, atau komputer Anda menggunakan ponsel cerdas atau smartphone maka cukup klik tanda “titik tiga” di sudut kanan atas, lalu klik “Cari di halaman”. Setelah itu silahkan ketikkan keyword gejala atau penyakit yang ingin dicari lalu tekan “Search” atau “gambar kaca pembesar”. Anda pun akan dibawa ke area keyword Kode ICD 10 untuk Diagnosis Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan – Kepala Leher THT – KLDi bawah ini akan kami rincikan diagnosa dan nomor kode masing-masing penyakit THT – KL. Untuk lebih memudahkan pencarian, kami membagi penomoran ini menjadi 5 bagian. Adapun bagian tersebut yaitu penyakit telinga, hidung, tenggorokan, tumor THT, dan medical check up Kode ICD 10 Diagnosis Penyakit TelingaYuk simak daftar penomoran di bawah ini. Semakin akurat penomoran di aplikasi atau situs BPJS maka akan semakin memudahkan urusan administrasi fasilitas Penyakit TelingaKode ICD 10Diagnosis ICD 10 untuk BPJS KesehatanSerumen propH612Impacted cerumenBenda asing di telingaT16Foreign body in earAbses telinga luarH600Abscess of external earSelulitis telinga luarH601Cellulitis of external earOtitis eksterna difusaH603Diffuse otitis externa, Swimmer ear, HemorragicOtomikosis infeksi jamur kandida pada telingaB372CandidiasisOtomikosis infeksi jamur aspergillus pada telingaB448AspergillosisKolesteatom eksternaH604Cholesteatoma of external earOtitis eksterna malignaH602Malignant otitis externaOtalgia sakit telingaH920OtalgiaStenosis liang telinga didapat akibat trauma sekunder, inflamasi, atau infeksiH613Acquired stenosis of secondary trauma, inflammation, infectionEksotosis liang telingaH618Exostosis of external canalPerikondritis telinga luarH610Pericondritis of external earGangguan non-infeksi pada daun telingaH611Noninfective disorders of pinnaInfeksi tuba eustachiusH680Eustachian salpingitisOklusi tuba eustachius akibat kompresi, stenosis, atau strikturH681Obstruction of Eustachius tube compression, stenosis, strictureTuba patoulusH690Patulous Eustachian tubeOtitis media supuratif akutH660Acute suppurative otitis mediaOtitis media efusi akutH650Acute serous otitis media barotarumaOtitis media efusi akut dan subakut akibat alergiH651Acute and subacute allergic otitis media mucoid serousOtitis media efusi kronisH652Chronic serous otitis mediaOtitis media efusi kronis glue earH653Chronic mucoid otitis media Glue EarOtitis media kronik akibat alergiH654Chronic allergic otitis mediaOtitis media supuratif kronis tipe benigna fase aktifH661Chronic tubotympanic suppurative otitis mediaOtitis media supuratif kronis tipe benigna fase tenangH720Central perforation of tympanic membraneOtitis media supuratif kronis tipe malignaH662Chronic atticoantral suppurative otitis mediaH71Cholesteatoma of middle earH721Attic perforation of tympanic membraneH722Other marginal perforations of tympanic membraneH728Total & multiple perforations of tympanic membranePolip telingan tengahH744Polyp of middle earOtitis media supuratif kronis akibat TBCA186Tuberculosis of inner middle earParesis fasialisH519Disorder of facial nerve, unspecifiedMastoiditis akut abses mastoidH700Acute mastoiditis abcess of mastoidMastoiditis kronik fistula mastoidH701Chronic mastoiditis Fistula of mastoidVertigoH811Benign paroxysmal vertigoDisfungsi labirin paresis kanalH832Labyrinthine dysfunction paresis kanalPenyakit MeniereH810Meniere’s diseaseNeuronitis vestibularH812Vestibular neuronitisVertigo perifer lainnyaH813Other peripheral vertigoVertigo sentralH814Vertigo of central originInfeksi labirinH830LabyrinthitisFistula labirinH831Labyrinthine fistulaGangguan perkembangan bicara dan bahasaF809Developmental disorder of speech and language, unspecifiedTinitus bising pada telingaH931TinnitusTuli konduktif bilateralH900Conductive hearing loss, bilateralTuli konduktif unilateralH901Conductive hearing loss, unilateral, normal on contralateralTuli sensorineural bilateralH903Sensorineural hearing loss, bilateralTuli sensorineural unilateralH904Sensorineural hearing loss, unilateral normal on contralateralTuli campuran bilateralH906Mixed hearing loss, bilateralTuli campuran unilateralH907Mixed hearing loss, unilateral, normal on the contralateralPresbikusisH911PresbycusisTuli mendadakH912Sudden idiopathic hearing lossEfek suara pada telinga dalam trauma akustik, NIHLH833Noise effects on inner ear acoustic trauma, NIHLTuli akibat ototoksikH910Ototoxic hearing lossMiringitis akutH730Acute myringitisMiringitis kronisH731Chronic myringitisOtitis media adesifH741Adhesive middle ear diseaseTimpanosklerosisH740TympanosclerosisOtosklerosisH800Otosclerosis involving oval window, nonobliterativeH801Otosclerosis involving oval window, obliterativeH802Cochlear otosclerosisGangguan pada tulang pendengaranH742Discontinuity and dislocation of ear ossiclesH743Ankylosis and partial loss of ear ossiclesCedera superfisial pada telingaS004Superficial injury of earLuka robek pada telingaS013Open wound of earFraktus basis kraniiS021Fracture of Base of SkullCedera saraf fasialisS045Injury of facial nerveCedera saraf akustikS046Injury of acoustic nerveRuptur gendang telinga akibat traumaS092Traumatic rupture of ear drumHerpes pada telingaB001Herpes simpleks infectionB028Zoster with other complicationsPaska operasi mastoidH950Recurrent cholesteatoma of postmastoidectomy cavityH951Chronic inflam, granulation, mucosal cyst of postmastoidectomyDeformitas pada telingaM951Cauliflower earDefek kongenital pada telingaQ160Congenital absence of ear auricle anotiaQ161Congenital absence, atresia and stricture of auditory canalQ162Absence of eustachian tubeQ163Congenital malformation of ear ossiclesQ164Other congenital malformations of middle earQ165Congenital malformation of inner earQ169Congenital malformation of ear causing impairment of hearingQ170Accessory auricleQ171MacrotiaQ172MicrotiaQ175Prominent earQ180Sinus, fistula and cyst of branchial cleftQ181Preauricular sinus and cystQ182Other branchial cleft malformationsKode ICD 10 Diagnosis Penyakit Telinga PDF dan Word DocUntuk para koder yang tidak mau repot-repot dalam melakukan pencarian di dunia maya, silahkan save saja tabel di atas dalam bentuk PDF atau word document nya melalui link di bawah ini.> Link masih dalam tahap pengupdateanList Kode ICD 10 Diagnosa Penyakit HidungSetelah penyakit telinga, di bawah ini akan kami bagikan tabel yang berisi daftar penyakit pada hidung beserta Penyakit HidungKode ICD 10Diagnosis ICD 10 untuk BPJS KesehatanSinusitis akutJ01Acute sinusitisSinusitis akut pada sinus maksilarisJ010Acute maxillary sinusitisSinusitis akut pada sinus frontalisJ011Acute frontal sinusitisSinusitis akut pada sinus etmoidalisJ012Acute ethmoidal sinusitisSinusitis akut pada sinus sfenoidalisJ013Acute sphenoidal sinusitis, unspecifiedPansinusitis akutJ014Acute pansinusitis, unspecifiedSinusitis akut lainnya lebih dari satu sinus, tetapi bukan pansinusitisJ018Other acute sinusitis, more than one sinus, not pansinusitisRinitis kronisJ310Chronic rhinitis atropic, granulomatousSinusitis maksilaris kronikJ320Chronic maxillary sinusitisSinusitis frontalis kronikJ321Chronic frontal sinusitisSinusitis etmoidalis kronisJ322Chronic ethmoidal sinusitisSinusitis sfenoidalis kronisJ323Chronic sphenoidal sinusitisPansinusitis kronikJ324Chronic pansinusitisSinusitis krnois lainnya lebih dari satu sinus, tetapi bukan pansinusitisJ328Other chronic sinusitis, more than one sinus, not pansinusitisSinusitis kronik tidak spesifikJ329Chronic sinusitis, unspecifiedPolip pada rongga hidungJ330Polyp of nasal cavity choanal, nasopharyngealSindroma woakesJ331Polypoid sinus degeneration Woakes’ SyndromePolip sinus lainnyaJ338Other polyp of sinus polyp of ethmoidal, maxillary, spenoidalPolip hidung tidak spesifikJ339Nasal polyp, unspecifiedRinitis vasomotorJ300Vasomotor rhinitisRinitis alergiJ304Allergic rhinitis, unspecifiedRinitis alergi disertai asmaJ450Allergic rhinitis with asthmaDeviasi septum nasiJ342Deviated nasal septumHipertrofi konkaJ343Hypertrophy of nasal turbinatesPerforasi septum nasi, rinolitJ348Perforation of nasal septum, rinolithEpistaksisR040EpistaxisAbses, furunkel, dan karbunkel pada hidungJ340Abscess, furuncle and carbuncle of noseDeformitas hidung didapatM950Acquired deformity of noseTrauma hidungS003Superficial injury of noseS012Open wound of noseS021Fracture of Base of SkullS022Fracture of Nasal BonesS031Dislocation of Septal Cartilage of NoseS040Injury of optic nerve and pathwayasBenda asing di hidung’T170Foreign Body in nasal sinusT171Foreign Body in nostrilObstruktive sleep apneu pada dewasa dan anakG4733Obstructive sleep apnea adult pediatricKebocoran cairan serebrospinalG960Cerebrospinal fluid leakSelulitis orbitaH050Cellulitis of orbitAtresia koanaQ300Choanal AtresiaList Kode ICD 10 Diagnosa Penyakit Hidung Format Word Doc dan PDFBagi yang mau tabel di atas versi format word document atau PDF nya yuk langsung aja ambil di tautan di bawah ini.> Link sedang dalam penyempurnaanDaftar Kode ICD 10 Diagnosis Penyakit Tenggorokan Laring, Faring, atau TrakeaBerikut ini adalah tabel yang berisikan diagnosis dari beberapa penyakit yang ada di tenggorokan, khususnya bagian laring, faring, dan trakea. Silahkan cari kode yang Anda TenggorokanKode ICD 10Diagnosis ICD 10 untuk BPJS KesehatanTonsilitis akut akibat bakteri StreptokokusJ030Acute streptococcal tonsillitisTonsilitis akut akibat bakteri spesifik lainnyaJ038Acute tonsillitis due to other specified organismsTonsilitis akut tidak spesifikJ039Acute tonsillitis, unspecifiedTonsilitis kronisJ350Chronic tonsillitisHipertrofi tonsilJ351Hypertrophy of tonsilsHipertrofi adenoidJ352Hypertrophy of adenoidsHipertrofi tonsil dengan hipertrofi adenoidJ353Hypertrophy of tonsils with hypertrophy of adenoidsFaringitis viral akutB302Viral pharyngoconjunctivitisCommon coldJ00Acute nasopharyngitis [common cold]Faringits streptokokalJ020Streptococcal pharyngitisFaringitis akut karena organisme spesifikJ028Acute pharyngitis due to other specified organismsFaringitis akut tidak spesifikJ029Acute pharyngitis, unspecifiedFaringitis kronisJ311Chronic nasopharyngitisJ312Chronic pharyngitis atrophi, granular, hipertrophicKelainan rongga mulutB370Cadidal stomatitisK120Recurrent oral aphthae aphthos stomatitisK132Leukoplakia of oral mucosa, including tongueBenda asing di faringT172Foreign body in pharynxBenda asing di laringT173Foreign body in larynxBenda asing di trakeaT174Foreign body in tracheaBenda asing di bronkusT175Foreign body in bronchusBenda asing di mulutT180Foreign body in mouthBenda asing di esofagusT181Foreign body in esophagusLaringitis akutJ040Acute laryngitisLaringitis obstruktif akutJ050Acute obstructive laryngitis [croup]Laringofaringitis kronikJ060Acute laryngopharyngitisLaringitis kronisJ370Chronic laryngitisParalisis pita suara dan laringJ380Paralysis of vocal cords and larynxPolip pita suara dan laringJ381Polyp of vocal cord and larynxNodul pada pita suaraJ382Nodules of vocal cordsPenyakit lainnya pada pita suaraJ383Other diseases of vocal cordsEdema laringJ384Edema of larynxSpasme laringJ385Laryngeal spasmStenosis laringJ386Stenosis of larynxPenyakit lainnya pada laring abses, selulitis, perikondroitisJ387Other diseases of larynx abscess, cellulitis, perichondritisTBC pada laring, trakea, dan bronkusA155Tuberculosis of larynx, trachea and bronchusLimfadenopati TBC periperalA182Tuberculosis of perypheral lymphadenopathyGERDK210Gastro-esophageal reflux diseaseDisfagiaR13DysphagiaObstruksi jalan nafas akutJ960Acute respiratory failureObstruksi jalan nafas kronisJ961Chronic respiratory failureKomplikasi trakeostomiT818Emphysema subcutaneous resulting from procedureJ950Tracheostomy malfunction haemorrhage, obstruction, fistulaAbses peritonsilJ36Peritonsillar abscessAbses retro dan parafaringJ390Retropharyngeal and parapharyngeal abscessAbses submandibulaK122Cellulitis and abscess of mouth submandibular abscessDiferiA360Pharyngeal diphtheriaA361Nasopharyngeal diphtheriaA362Laryngeal diphtheriaDefek kongenital pada laring, faring, dan trakeaQ310Web of larynxQ311Congenital subglottic stenosisQ312Laryngeal hypoplasiaQ313LaryngoceleQ315Congenital laryngomalaciaQ320Congenital tracheomalaciaQ387Congenital pharyngeal pouchParotitisB26MumpsGangguan tiroidE040Nontoxic diffuse goiterE041Nontoxic single thyroid noduleE042Nontoxic multinodular goiterE050Thyrotoxicosis with diffuse goiterE051Thyrotoxicosis with toxic single thyroid noduleE052Thyrotoxicosis with toxic multinodular goiterGangguan pada TMJM266Temporomandibular joint disorderLangit-langit sumbingQ35Cleft palateBibir sumbingQ36Cleft lipLangit-langit dan bibir sumbingQ37Cleft palate with cleft lipTraumaS005Superficial injury of lip and oral cavityS014Open wound of cheek and temporomandibular areaS015Open wound of lip and oral cavityS100Superficial injury of neck, contusion of throatS110Open wound of larynx and tracheaS111Open wound of thyroid glandS112Open wound of pharynx and cervical esophagusReaksi anafilaksis pada saluran nafas atasJ393Upper respiratory tract hypersensitivity reaction, site unspecifiedKelainan esofagusK220Achalasia of cardiaK223Perforation of esophagusK225Diverticulum of esophagus, acquiredAtrofi kelenjar air liurK110Atrophy of salivary glandHipertrofi kelenjar liurK111Hypertrophy of salivary glandSialoadenitisK112SialoadenitisAbses pada kelenjar liurK113Abscess of salivary glandFistula pada kelenjar liurK114Fistula of salivary glandSialoadenitisK115SialolithiasisMukokel pada kelenjar salivaK116Mucocele of salivary glandDaftar Kode ICD 10 Diagnosis Penyakit Tenggorokan versi PDF dan Word DocSeperti yang sudah-sudah, bilamana Anda membutuhkan tabel di atas versi word document dan PDF nya maka gampang sekali. Silahkan ambil saja pada tautan di bawah ini.> Harap bersabar, tautan dalam pengupdateanList ICD 10 Diagnosa Tumor Jinak dan Kanker Ganas Pada THTKami membuat pemisahan penyakit-penyakit tumor jinak dan kanker di bawah ini. Hal ini untuk mengurangi kebingungan bagi para pembaca. Yuk simak saja langsung datanya di tabel di bawah Tumor Jinak dan KankerKode ICD 10Diagnosis ICD 10 untuk BPJS KesehatanKanker NasofaringC110Malignant neoplasm of superior wall of nasopharynxC111Malignant neoplasm of posterior wall of nasopharynxC112Malignant neoplasm of lateral wall of nasopharynxC113Malignant neoplasm of anterior wall of nasopharynxC118Malignant neoplasm of overlapping sites of nasopharynxC119Malignant neoplasm of nasopharynx, unspecifiedTumor ganas Pada laringC320Malignant neoplasm of glottisC321Malignant neoplasm of supraglottisC322Malignant neoplasm of subglottisC323Malignant neoplasm of laryngeal cartilageC328Malignant neoplasm of overlapping sites of larynxC329Malignant neoplasm of larynx, unspecifiedKanker HidungC300Malignant neoplasm of nasal cavityTumor Ganas Pada SinusC310Malignant neoplasm of maxillary sinusC311Malignant neoplasm of ethmoidal sinusC312Malignant neoplasm of frontal sinusC313Malignant neoplasm of sphenoid sinusC318Malignant neoplasm of overlapping sites of accessory sinusesC319Malignant neoplasm of accessory sinus, unspecifiedKanker TonsilC090Malignant neoplasm of tonsillar fossaC091Malignant neoplasm of tonsillar pillar anterior posteriorC098Malignant neoplasm of overlapping sites of tonsilC099Malignant neoplasm of tonsil, unspecifiedKanker OrofaringC100Malignant neoplasm of valleculaC101Malignant neoplasm of anterior surface of epiglottisC102Malignant neoplasm of lateral wall of oropharynxC103Malignant neoplasm of posterior wall of oropharynxC104Malignant neoplasm of branchial cleftC108Malignant neoplasm of overlapping sites of oropharynxC109Malignant neoplasm of oropharynx, unspecifiedKanker HipofaringC12Malignant neoplasm of pyriform sinusC130Malignant neoplasm of postcricoid regionC131Malignant neoplasm of aryepiglottic fold, hypopharyngeal aspectC132Malignant neoplasm of posterior wall of hypopharynxC138Malignant neoplasm of overlapping sites of hypopharynxC139Malignant neoplasm of hypopharynx, unspecifiedTumor Ganas Pada Liang TelingaC4421Basal cell carcinoma skin of ear and external auricular canalC4422Squamous cell carcinoma of skin of ear and external canalKanker Telinga TengahC301Malignant neoplasm of middle earTumor Ganas Pada BibirC000Malignant neoplasm of external upper lipC001Malignant neoplasm of external lower lipC002Malignant neoplasm of external lip, unspecifiedC003Malignant neoplasm of upper lip, inner aspectC004Malignant neoplasm of lower lip, inner aspectC005Malignant neoplasm of lip, unspecified, inner aspectC006Malignant neoplasm of commissure of lip, unspecifiedC008Malignant neoplasm of overlapping sites of lipC009Malignant neoplasm of lip, unspecifiedKanker LidahC01Malignant neoplasm of base of tongueC020Malignant neoplasm of dorsal surface of tongueC021Malignant neoplasm of border of tongueC022Malignant neoplasm of ventral surface of tongueC023Malignant neoplasm of anterior two-thirds of tongueC024Malignant neoplasm of lingual tonsilC028Malignant neoplasm of overlapping sites of tongueC029Malignant neoplasm of tongue, unspecifiedTumor Ganas Pada GusiC030Malignant neoplasm of upper gum C031Malignant neoplasm of lower gum C039Malignant neoplasm of gum, unspecifiedKanker Dasar MulutC040Malignant neoplasm of anterior floor of mouth C041Malignant neoplasm of lateral floor of mouth C048Malignant neoplasm of overlapping sites of floor of mouth C049Malignant neoplasm of floor of mouth, unspecifiedTumor Ganas Palatum dan UvulaC050Malignant neoplasm of hard palate C051Malignant neoplasm of soft palate C052Malignant neoplasm of uvula C058Malignant neoplasm of overlapping sites of palate C059Malignant neoplasm of palate, unspecifiedTumor Ganas Mukosa MulutC060Malignant neoplasm of cheek mucosa C061Malignant neoplasm of vestibule of mouth C062Malignant neoplasm of retromolar area C0680Malignant neoplasm of overlapping sites of mouth C0689Malignant neoplasm of overlapping sites of other parts of mouth C069Malignant neoplasm of mouth, unspecifiedTumor ganas mandibulaC411Malignant neoplasm of mandibleKanker TiroidC73Malignant neoplasm of thyroid glandKanker EsofagusC159Malignant neoplasm of esophagus, unspecifiedKanker Kelenjar LiurC07Malignant neoplasm of parotid gland C080Malignant neoplasm of submandibular gland C081Malignant neoplasm of sublingual gland C089Malignant neoplasm of major salivary gland, unspecifiedLimfomaC81Hodgkin lymphoma C82Follicular lymphoma C83Non Follicular lymphoma C84Mature T/ NK-cell lymphoma C85Non Hodgin LymphomaTumor jinak bagian kesatuD100lip D101tongue D102floor of mouth D103unspecified part of mouth D104tonsil D105oropharynx D106nasopharynx D107hypopharynx D110parotid gland D117sublingual, submandibular glands D140middle ear, nasal cavity and accesory sinus D141larynx D150thymus D170lipomatous D180hemangiomaTumor jinak bagian keduaD181lymphangioma D232skin and external auricular canal D315lacrimal gland and duct D333cranial nerves D34thyroid gland D351parathyroid gland D352pituitary gland D353craniopharyngeal duct D354pineal gland D360lymph nodes D3611peripheral & autonom nerves head neck faceList Kode ICD 10 Diagnosa Tumor Jinak dan Kanker Ganas THT Format Word Doc dan PDFKemudahan bagi pembaca kami adalah hal yang utama, khususnya juga para koder yang berjibaku di era JKN BPJS Kesehatan ini. Yuk gak perlu repot dengan langsung memiliki tabel di atas. Ambil secara gratis di bawah ini.> Tautan sedang dalam proses pembaharuanKode ICD 10 Diagnosis Medical Check Up THTMedical check up atau pemeriksaan medis dalam rangka penapisan juga dapat dilakukan di poli THT ruma sakit. Pemeriksaan dan tidnakan ini juga memiliki kode-kode. Yuk, simak tabelnya di bawah ICD XDiagnosis ICD 10 untuk BPJS KesehatanMCU DEWASA NORMALZ00Encounter for general adult medical examination without abnormal findingsMCU PENDENGARANZ011Encounter for examination of ears and hearingMCU TUJUAN TERTENTUZ020Encounter for examination for admission to educational institutionZ021Encounter for pre-employment examinationZ022Encounter for examination for admission to residential institutionZ023Encounter for examination for recruitment to armed forcesZ024Encounter for examination for driving licenseZ025Encounter for examination for participation in sportZ026Encounter for examination for insurance purposesZ027Encounter for issue of medical certificateNah, itu tadi lima tabel yang masing-masing berisi nomor kode ICD 10 THT -KL telinga, hidung, tenggorok, kepala, dan leher. Kode ini akan sangat dibutuhkan dalam entri kode Pcare BPJS Kesehatan atau aplikasi di rumah sakit. Mudah-mudahan ini membantu. Sumber 10 THT Kecuali penyakit infeksi dan parasit tertentu A00-B99 neoplasma C00-D48 penyakit endokrin, nutrisi, dan metabolik E00-E90 komplikasi hamil, melahirkan, dan puerperium O00-O99 kondisi tertentu yang berasal dari masa perinatal P00-P96 malformasi, deformasi, dan kelainan kromosom kongenital Q00-Q99 gejala, tanda, dan penemuan klinis dan laboratorium abnormal, NEC R00-R99 injury, poisoning dan konsekuensi tertentu lain dari penyebab eksterna S00-T98 Chapter ini berisi blok-blok berikut H60-H62 Penyakit-penyakit external ear H65-H75 Penyakit-penyakit middle ear dan mastoid H80-H83 Penyakit-penyakit inner ear H90-H95 Other Kelainan-kelainan of ear Kategori asterisk untuk chapter ini adalah sebagai berikut H62* Gangguan telinga luar pada penyakit H67* Otitis media pada penyakit H75* Gangguan lain telinga tengah dan mastoid pada penyakit H82* Sindorma vertiginosa pada penyakit H94* Gangguan lain telinga pada penyakit Penyakit-penyakit telinga luar H60-H62 H60 Otitis externa Abses telinga luar Vesikel, karbunkel, furunkel pada aurikula atau liang telinga luar Sellulitis telinga luar Sellulitis aurikula, liang telinga luar Otitis externa maligna Otitis externa infektif lainnya Otitis externa diffusa, otitis externa haemorrhagika, Swimmer’s ear Cholesteatoma telinga luar Keratosis obturans saluran telinga luar Otitis externa akut, noninfektif Otitis externa akut NOS, aktinik, kimiawi, kontak, eksematoid, reaktif Otitis externa lainnya Otitis externa kronis NOS Otitis externa, tidak dijelaskan H61 Kelainan-kelainan lain telinga luar Perikhondritis telinga luar Chondrodermatitis nodularis chronica helicis Perichondritis pada aurikula, pinna Kelainan daun telinga non-infektif Deformitas didapatpada aurikula, pinna Kecuali cauliflower ear Impacted cerumen Lilin dalam telinga Stenosis didapat pada liang telinga luar Kollaps liang telinga luar Kelainan-kelainan yang dijelaskan pada telinga luar Exostosis liang telinga luar Kelainan telinga luar, tidak dijelaskan H62* Kelainan telinga luar pada penyakit Otitis externa pada penyakit bakteri Otitis externa pada erysipelas A46† Otitis externa pada penyakit virus Otitis externa pada infeksi herpesviral [herpes simplex] zoster Otitis externa pada mikosis Otitis externa pada aspergillosis candidiasis Otomycosis NOS Otitis externa pada penyakit infeksi dan parasit lainnya Otitis externa pada penyakit lainnya Otitis externa pada impetigo Kelainan-kelainan lain telinga luar pada penyakit Penyakit-penyakit telinga tengah dan mastoid H65-H75 H65 Otitis media tanpa nanah nonsuppuratif Termasuk with myringitis radang membran tympani Otitis media serosa akut Otitis media sekretori akut dan subakut Otitis media akut nonsuppuratif lainnya Otitis media, akut dan subakut allergika mukoidsanguinosaserosa, mukoid, nonsuppuratif NOS, sanguinosa, seromusinosa Kecuali otitis media akut NOS otitik barotrauma Otitis media serosa kronis Chronic tubotympanal catarrh Otitis media mukoid kronis Otitis media, kronis musinosa, sekretoris, transudatif; glue ear Kecuali penyakit telinga tengah adhesif Otitis media nonsuppuratif kronis lainnya Otitis media, kronis allergika, nonsuppuratif NOS, dengan effusi nonpurulenta, eksudatif, seromusinosa Otitis media nonsuppuratif, tidak dijelaskan Otitis media allergika, dengan effusi nonpurulenta, katarrhalis, eksudatif, mukoid, sekretoris, seromusinosa, serosa, transudatif H66 Otitis media suppuratif dan tidak dijelaskan Termasuk dengan myringitis Otitis media suppuratif akut Otitis media suppuratif tubotimpani kronis Otitis media suppuratif kronis ringan Penyakit tubotimpani kronis Otitis media suppuratif attico-antral kronis Penyakit attico-antral kronis Otitis media suppuratif kronis lainnya Otitis media suppuratif kronis NOS Otitis media suppuratif, tidak dijelaskan Otitis media purulenta NOS Otitis media, tidak dijelaskan Otitis media NOS, akut NOS, kronik NOS H67* Otitis media pada penyakit Otitis media pada penyakit bakteri Otitis media pada TB scarlet fever A38† Otitis media pada penyakit virus Otitis media pada measles influenza J10-J11† Otitis media pada penyakit lain H68 Eustachian salpingitis dan obstruction Eustachian salpingitis – peradangan tuba Eustachius Obstruksi tuba Eustachius Kompresi, stenosis, striktura tuba Eustachius H69 Gangguan lain Eustachian tube Patulous Eustachian tube [terbuka karena regangan] Kelainan-kelainan yang dijelaskan pada tuba Eustachius Kelainan tuba Eustachius, tidak dijelaskan H70 Mastoiditis dan kondisi terkait Mastoiditis akut Abses atau empyem masoid Mastoiditis kronis Karies atau fistula mastoid Petrositis Peradangan os. Petrosus acutechronic Mastoiditis dan kondisi terkait lainnya Mastoiditis, tidak dijelaskan H71 Cholesteatoma telinga tengah Cholesteatoma tympani Kecuali cholesteatoma telinga luar cholesteatoma rekurens pada rongga pasca-mastoidektomi H72 Perforasi membrana timpani Termasuk perforasi gendang telinga persisten pasca trauma, pasca peradangan Kecuali ruptur traumatika gendang telinga Perforasi membran tympani bagian sentral Perforasi membran tympani bagian attic atas Perforasi pars flaccida Perforasi pinggir lainnya pada membran tympani Perforasi lainnya pada membran tympani Perforasi membran tympani ganda atau total Perforasi membran tympani, tidak dijelaskan H73 Kelainan-kelainan lain membran timpani Acute myringitis / Acute tympanitis Timpanitis akut, miringitis bullosa Kecuali dengan otitis media H65-H66 Myringitis kronis Tympanitis kronis Kecuali dengan otitis media H65-H66 Kelainan-kelainan lain yang dijelaskan pada membran timpani Kelainan membran timpani, tidak dijelaskan H74 Kelainan-kelainan lain telinga tengah dan mastoid Tympanosclerosis Penyakit telinga tengah adhesif Otitis adhesif Kecuali glue ear Diskontinuitas dan dislokasi tulang-tulang pendengaran Kelainan tulang-tulang pendengaran didapat lainnya Ankylosis atau kehilangan sebagian tulang-tulang pendengaran Polyp telinga tengah Kelainan-kelainan lain yang dijelaskan pada telinga tengah dan mastoid Kelainan telinga tengah dan mastoid, tidak dijelaskan H75* Kelainan-kelainan lain telinga tengah dan mastoid pada penyakit Mastoiditis pada penyakit infeksi dan parasit Mastoiditis TB Kelainan lain telinga tengah dan mastoid yang dijelaskan pada penyakit Penyakit-penyakit telinga dalam H80-H83 H80 Otosklerosis Termasuk otospongiosis Otosklerosis yang melibatkan foramen ovale, nonobliteratif Otosklerosis yang melibatkan foramen ovale, obliteratif Otosklerosis kokhlearis Otosklerosis yangmelibatkan kapsul otik, foramen ovale Otosklerosis lainnya Otosklerosis, tidak dijelaskan H81 Kelainan-kelainan fungsi vestibulum Kecuali vertigo NOS R42, epidemik Penyakit MĂ©niere Hidrops labirinth, sindroma atau vertigo Meniere Vertigo paroksismal ringan Neuronitis vestibularis Vertigo perifer lainnya Sindroma Lermoyez Vertigo aura, otogenik, perifer NOS Vertigo yang berasal dari sentral Nystagmus posisional sentralis Kelainan-kelainan lain fungsi vestibulum Kelainan fungsi vestibulum, tidak dijelaskan Sindroma vertiginosa NOS H82* Sindroma vertiginosa pada penyakit H83 Penyakit-penyakit telinga dalam lainnya Labyrinthitis Fistula labirinth Disfungsi labirinth Hipersensitivitas, hipofungsi, hilangnya fungsi labirinth Efek-efek bising terhadap telinga dalam Trauma akustik, penurunan pendengaran akibat bising Penyakit-penyakit lain yang dijelaskan pada telinga dalam Penyakit-penyakit telinga dalam, tidak dijelaskan Kelainan-kelainan lain pada telinga H90-H95 Catatan khusus dari Volume 2 untuk H90-H91 Hearing loss Kode-kode ini tidak digunakan sebagai kode kondisi utama kalau penyebabnya diketahui, kecuali kalau episode perawatan adalah untuk kehilangan pendengaran itu sendiri. Untuk mengkode penyebab, atau bisa digunakan sebagai kode tambahan. H90 Tuli konduktif dan sensorineural Termasuk tuli kongenital Kecuali deaf mutism [bisu-tuli] NEC tuli NOS tuli akibat bising ototoksik mendadak idiopathic NOS Tuli konduktif, bilateral Tuli konduktif unilateral; sisi kontralateral baik Tuli konduktif, tidak dijelaskan Tuli konduktif NOS Tuli sensorineural, bilateral Tuli sensorineural unilateral; sisi kontralateral baik Tuli sensorineural, tidak dijelaskan Tuli sensorineural NOS, tuli kongenital NOS Tuli sentral, neural, perseptif, atau sensoris NOS Tuli campur konduktif dan sensorineural, bilateral Tuli campur konduktif dan sensorineural unilateral; sisi kontralateral baik Tuli campur konduktif dan sensorineural, tidak dijelaskan H91 Tuli lainnya Kecuali tuli psikogenik impacted cerumen tuli akibat bising tuli menurut klasifikasi pada tuli iskemik sementara persepsi pendengaran abnormal Tuli ototoksik Presbycusis [tuli sensorineural pada penuaan] Presbyacusia Tuli idiopatik mendadak Tuli mendadak NOS Bisu-tuli, not elsewhere classified Tuli lain yang dijelaskan Tuli, tidak dijelaskan Deafness NOS, frekuensi tinggi, frekuensi rendah H92 Otalgia dan effusi telinga Otalgia Otorrhoea Kecuali bocoran cerebrospinal fluid melalui telinga Otorrhagia [perdarahan melalui telinga luar] Kecuali otorrhagia traumatika. H93 Kelainan-kelainan lain telinga, not elsewhere classified Kelainan-kelainan degeneratif dan vaskular pada telinga Tuli iskemik sementara Kecuali presbycusis Tinnitus Persepsi pendengaran abnormal lainnya Auditory recruitment [pendengaran berlebih dari yang ada] Diplacusis [pendengaran beda antara kedua telinga, pendengaran ganda] Hyperacusis [sangat sensitif terhadap suara] Perubahan ambang pendengaran sementara Kecuali hallusinasi auditorius Kelainan-kelainan n. akustikus Kelainan NC VIII Kelainan-kelainan lain yang dijelaskan pada telinga Kelainan telinga, tidak dijelaskan H94* Kelainan-kelainan lain telinga pada penyakit Neuritis akustikus pada penyakit infeksi dan parasit Neuritis akustikus pada sifilis Gangguan lain telinga yang dijelaskan pada penyakit H95 Kelainan pasca-prosedur telinga dan prosesus mastoideus, NEC Kholesteatoma rekuren pada rongga pasca-mastoidectomi Kelainan lain menyusul mastoidectomi Peradangan kronis, granulasi, kista mukosa pada rongga pasca-mastoidectomi Kelainan-kelainan pasca prosedur lain pada telinga dan prosesus mastoideus Kelainan pasca prosedur pada telinga dan prosesus mastoideus, tidak dijelaskan

kode icd 10 sakit telinga